Minggu, 06 Januari 2019

Mr. M


Hello J

Malam ini aku mau cerita lagi deh disini hehe, tadi kan udah galau galau ingat masa lalu tuh sok puitis. Nah sekarang tuh mau cerita tentang sosok doi yang bikin berbunga bunga serasa di taman bunga haha…

Sebut saja dia M.

Siang hari di awal desember aku sedang gabut, menyendiri di sudut teras rumah om dan aku melihat story instagram si M ini terus aku kaget, aku merasa familiar dengan tempat itu dan terlihat sedang ada angin puting beliung. Tanpa basa basi ku komen dong story nya, ya biasa lah pertanyaan standar demi memuaskan hasrat ke kepoan.

Singkat cerita nih aku minta tuh video terus M minta nomor whatsapp aku, nah dari situ mulai deh lancar selancar jalan tol. Ya, awalnya topiknya standar lah tapi berhubung aku bawel+kepo jadi pembahasan aku dan M ini banyak banget terus entah siapa yang memulai duluan tiba-tiba kami jadi sering video call.

Rasanya aneh deh secara si M ini temen dari SMP dan SMA ku, gak deket gak pernah bercanda atau apa gitu tiba tiba vcall. Gak tau pastinya kapan aku sama M mulai kode kodean gitu, yaudah deh langsung diperjelas sama dia. Oh iya sebelumnya selain bahas angin putting beliung itu aku juga sempat membahas tentang rencana ku untuk lanjut ke semarang dan butuh bantuan dia untuk mencari kos kosan..

duh, sebenernya kalau mau diceritain panjang banget dan jujur ku malas cerita yang bahagia bahagia maunya diingat aja wkwkw, sumpah cerita bahagia sama dia tuh banyak banget, ya kalau pun berantem ya berantem hal yang gak penting gitu haha.



Sekian aja deh ceritanya,

I LOVE YOU Mr.M

Mengenang Bukan Mengulang


Sedang ingin mengenang, hanya ingin mengingat bukan mengulang.

Suasana malam itu di sepanjang jalan yang kita lalui, ya saat itu masih ada kita, diiringi suara radio aku terdiam di samping mu sesekali kau tampak menoleh kearah ku memastikan aku tidak menangis. Aku memang tidak menangis saat itu, aku tahan, aku kuat yakin ku dalam hati.

Ah, rasanya sulit.
Siapa yang menyukai menunggu hal tak pasti, ku rasa tidak ada. Di tinggal pas lagi sayang sayangnya memang menyakitkan tapi lebih menyakitkan jika ditambahkan dengan harapan harapan tak pasti. Perlahan tapi pasti, rindu menggerogoti dan hubungan yang sedang dipertahankan kian hari kian terlihat rapuh. Beberapa bulan setelah ku antarkan kau ke pelabuhan aku pun pergi meninggalkan kota kenangan kita, pindah ke tempat yang lebih jauh.
Pernah suatu ketika kau berujar “aku akan menyusul mu, percayalah. percayalah semua akan lebih indah dari saat ini, aku berjanji” dan dengan bodohnya aku memegang janji itu. Bertahun-tahun aku memegang janji itu hingga akhirnya ku memilih untuk menyusul mu, menagih janji mu dan semua kata kata yang pernah kau ucap. Mungkin saat itu aku sedang kau gombali dan aku terbawa perasaan, ah bodoh sekali.
Hingga akhirnya aku berada hanya beberapa kilometer dengan rumah mu, memijak daratan yang sama. Bilang rindu pun aku tak mampu, aku memang payah, hanya melihat mu dari social media saja hati ku sudah tak karuan. Apalagi berharap bisa duduk disamping mu mendengar lagu kesukaan mu sambil melihat senyum mu yang ku rasa sangat menawan.
Harapan aku menjadi kenyataan kau menjemput ku mengajak berkeliling kota menikmati dinginnya udara malam. Parfum mu sudah berbeda tapi selalu bisa menjadi kesukaan ku. Peluk mu masih hangat walau sudah hambar, karna pelukan itu bukan seutuhnya milik ku.
Dan saat saat menyakitkan itu datang ketika ku bilang sayang pada mu dan kau hanya membalasnya dengan senyum ku ulangi lagi hingga kau berbisik “aku udah gak seperti dulu, kita udah beda gak mungkin seperti dulu” mendengar itu rasanya hati ku tak karuan, ada badai di dalam sana. Disatu sisi aku merasa lega mendapat kepastian setelah sekian tahun memegang janji itu namun disisi lain aku kecewa karna usaha ku tak berakhir indah.
Berbahagialah dengan pilihan mu, apa pun itu, aku kan mengenang mu untuk ku jadikan pembelajaran di masa depan.

Sabtu, 05 Januari 2019

Kamu pergi


Aku kehilangan mu tepat disaat aku sedang sayang sayangnya.
Kau meninggalkan ku ketika kita sudah melangkah cukup jauh.
Kau memutar arah langkah mu, meninggalkan ku sendiri yang terpaku menatap mu pergi.
Haruskah aku mengejar mu? menyamakan langkah kaki kita lagi?
Saat kau pergi hati ku terbawa oleh mu, harapan-harapan ku masih kau genggam.
Aku harus apa? memaksamu kembali? tidak mungkin, kau berlari menjauhi ku, cukup jauh sampai sulit ku kejar.

Tahun ini, tahun ke sekian setelah kamu pergi. Tapi aku masih membiasakan diri tanpa peluk mu, tanpa senyum mu, tanpa wangi parfum mu. Ku kira jarak yang memisahkan kita, tapi ku salah ternyata yang menciptakan jarak itu kamu sendiri. Kamu yang menghadirkan jarak antara kita hingga akhirnya kini hanya ada aku dan kamu bukan lagi kita. Seperti kutipan di buku galau yang sering ku baca “kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari”. Ya, kau tau sekarang jarak memang bukan masalah, ku bisa saja langsung menemui mu tapi sayangnya kamu dan aku harus menjaga perasaan pasangan masing-masing.

Pernah tanpa sengaja kita berpapasan di suatu keramaian, lalu kita memilih mengasingkan diri, duduk berdua di sudut taman dan bercerita tentang apa yang telah kita lewati semenjak berpisah. Entah kenapa perasaan itu masih sama hangatnya duduk disebelah mu membuat seoalah dunia ku berhenti. Cukup dengan memandangi mu senyumku bisa mengembang seharian. Aku tau dihatiku bukan lagi kamu penguasanya sudah ada dia yang kata mu dia lebih baik dari dirimu. Aku hanya bisa tertawa melihat mu berusaha membantu ku menghapus kenangan baik diantara kita meyakinkan ku bahwa kau tak sebaik dulu. Tawa dan cerita terus mengalir hingga akhirnya kau memutuskan untuk pulang satu pesan mu yang ku ingat “Nanti harus cari suami yang lebih dari aku ya” aku tersenyum getir tiap kali aku mengingatnya, ada rasa sakit yang tak mampu ku jelaskan disini.

Ah, seandainya aku bisa lupa tanpa aku harus berusaha mungkin aku tak perlu merasa sesedih ini. Aku yakin kamu tau usaha ku untuk memperbaiki kita meski aku berulangkali gagal dan kau hanya mengamati dari tempat mu.

Kau akan mengingat ku sebagai hujan, yang berkali kali jatuh tapi tetap bertahan.

Hai

Hai,
Maaf kali ini bukan kamu lagi, masa mu sudah habis dipenghujung 2018. 
Sudah ku ucapkan selamat tinggal meski kau tak mendengarnya. Sudah ku lepaskan segala pengharapan ku. Kali ini aku menyerah, benar benar menyerah.
Perjuangan ku untuk mencapai mu telah sia sia, ku sadar ku tak dapat memaksa mu dan aku cukup tau diri untuk terus maju menggapai mu. Semakin ku berusaha rasanya semakin jauh jarak diantara kita. Bahkan hadirnya aku di malam yang dingin itu tak mampu menghangatkan hati mu, saat itu hanya aku yang terhangatkan oleh sinar mu, ya kau masih bersinar seperti dulu masih menyilau kan.
Perjumpaan kemarin meyakinkan ku bahwa hati mu tak pernah lagi untuk ku. Ku teguhkan hati ku untuk tak merindu mu, ku pastikan rasa ini takkan tertuju pada mu. 
Bau parfum mu, hangat peluk mu bahkan masih membekas di ingatan, tapi untuk bertepuk tangan tidak bisa dengan sebelah tangan, kamu pasti tau maksud ku.