Aku kehilangan mu tepat disaat aku sedang sayang sayangnya.
Kau meninggalkan ku ketika kita sudah melangkah cukup jauh.
Kau memutar arah langkah mu, meninggalkan ku sendiri yang
terpaku menatap mu pergi.
Haruskah aku mengejar mu? menyamakan langkah kaki kita lagi?
Saat kau pergi hati ku terbawa oleh mu, harapan-harapan ku
masih kau genggam.
Aku harus apa? memaksamu kembali? tidak mungkin, kau berlari
menjauhi ku, cukup jauh sampai sulit ku kejar.
Tahun ini, tahun ke sekian setelah kamu pergi. Tapi aku masih
membiasakan diri tanpa peluk mu, tanpa senyum mu, tanpa wangi parfum mu. Ku kira jarak yang memisahkan kita, tapi ku salah ternyata yang
menciptakan jarak itu kamu sendiri. Kamu yang menghadirkan jarak antara kita
hingga akhirnya kini hanya ada aku dan kamu bukan lagi kita. Seperti kutipan di
buku galau yang sering ku baca “kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh
matahari”. Ya, kau tau sekarang jarak memang bukan masalah, ku bisa saja
langsung menemui mu tapi sayangnya kamu dan aku harus menjaga perasaan pasangan
masing-masing.
Pernah tanpa sengaja kita berpapasan di suatu keramaian,
lalu kita memilih mengasingkan diri, duduk berdua di sudut taman dan bercerita
tentang apa yang telah kita lewati semenjak berpisah. Entah kenapa perasaan itu
masih sama hangatnya duduk disebelah mu membuat seoalah dunia ku berhenti.
Cukup dengan memandangi mu senyumku bisa mengembang seharian. Aku tau dihatiku
bukan lagi kamu penguasanya sudah ada dia yang kata mu dia lebih baik dari
dirimu. Aku hanya bisa tertawa melihat mu berusaha membantu ku menghapus
kenangan baik diantara kita meyakinkan ku bahwa kau tak sebaik dulu. Tawa dan
cerita terus mengalir hingga akhirnya kau memutuskan untuk pulang satu pesan mu
yang ku ingat “Nanti harus cari suami yang lebih dari aku ya” aku tersenyum
getir tiap kali aku mengingatnya, ada rasa sakit yang tak mampu ku jelaskan
disini.
Ah, seandainya aku bisa lupa tanpa aku harus berusaha
mungkin aku tak perlu merasa sesedih ini. Aku yakin kamu tau usaha ku untuk
memperbaiki kita meski aku berulangkali gagal dan kau hanya mengamati dari tempat
mu.
Kau akan mengingat ku sebagai hujan, yang berkali kali jatuh
tapi tetap bertahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar