Sabtu, 05 Januari 2019

Kamu pergi


Aku kehilangan mu tepat disaat aku sedang sayang sayangnya.
Kau meninggalkan ku ketika kita sudah melangkah cukup jauh.
Kau memutar arah langkah mu, meninggalkan ku sendiri yang terpaku menatap mu pergi.
Haruskah aku mengejar mu? menyamakan langkah kaki kita lagi?
Saat kau pergi hati ku terbawa oleh mu, harapan-harapan ku masih kau genggam.
Aku harus apa? memaksamu kembali? tidak mungkin, kau berlari menjauhi ku, cukup jauh sampai sulit ku kejar.

Tahun ini, tahun ke sekian setelah kamu pergi. Tapi aku masih membiasakan diri tanpa peluk mu, tanpa senyum mu, tanpa wangi parfum mu. Ku kira jarak yang memisahkan kita, tapi ku salah ternyata yang menciptakan jarak itu kamu sendiri. Kamu yang menghadirkan jarak antara kita hingga akhirnya kini hanya ada aku dan kamu bukan lagi kita. Seperti kutipan di buku galau yang sering ku baca “kita pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari”. Ya, kau tau sekarang jarak memang bukan masalah, ku bisa saja langsung menemui mu tapi sayangnya kamu dan aku harus menjaga perasaan pasangan masing-masing.

Pernah tanpa sengaja kita berpapasan di suatu keramaian, lalu kita memilih mengasingkan diri, duduk berdua di sudut taman dan bercerita tentang apa yang telah kita lewati semenjak berpisah. Entah kenapa perasaan itu masih sama hangatnya duduk disebelah mu membuat seoalah dunia ku berhenti. Cukup dengan memandangi mu senyumku bisa mengembang seharian. Aku tau dihatiku bukan lagi kamu penguasanya sudah ada dia yang kata mu dia lebih baik dari dirimu. Aku hanya bisa tertawa melihat mu berusaha membantu ku menghapus kenangan baik diantara kita meyakinkan ku bahwa kau tak sebaik dulu. Tawa dan cerita terus mengalir hingga akhirnya kau memutuskan untuk pulang satu pesan mu yang ku ingat “Nanti harus cari suami yang lebih dari aku ya” aku tersenyum getir tiap kali aku mengingatnya, ada rasa sakit yang tak mampu ku jelaskan disini.

Ah, seandainya aku bisa lupa tanpa aku harus berusaha mungkin aku tak perlu merasa sesedih ini. Aku yakin kamu tau usaha ku untuk memperbaiki kita meski aku berulangkali gagal dan kau hanya mengamati dari tempat mu.

Kau akan mengingat ku sebagai hujan, yang berkali kali jatuh tapi tetap bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar